Berlatih Memikat Rasa Penasaran Siswa


Minggu ini adalah minggu pertama term 4 di sekolah tempat saya mengajar. Minggu pertama dengan topik yang baru dan rasa penasaran yang baru, saya mengajarkan satu topik yang menarik tentang komunikasi. Tujuan pembelajarannya adalah agar anak-anak belajar memahami fungsi dan cara menyusun argumen yang baik saat menyampaikan suatu gagasan. 

Namun, ada salah satu poin penting di segmen cara menyampaikan gagasan yang menarik perhatian audiens atau lawan bicara. Saya pun tertegun seketika mengingat momen-momen anak-anak teralihkan. Saya menegur dengan hitungan, anak-anak yang menguap, dan salah satu anak yang bilang bosan. Artinya, saya sendiri belum menguasai cara memikat perhatian anak didik saya. Artinya saya harus belajar.

Apa Makna Memikat Rasa Penasaran

Memikat rasa penasaran orang lain di dalam bayangan saya adalah menarik perhatian indera dan memfokuskan berpikir pada satu waktu. Artinya, mata dan telinga, dua indera yang menjadi pintu masuk informasi harus tertuju pada kita, ini membutuhkan kesadaran penuh. Karena bisa saja mata dan telinga memang tertuju pada kita, tapi pikirannya melayang entah ke mana, artinya saluran informasinya tidak terbuka. 

Akan jadi lebih menantang dan menarik fokus anak-anak yang belum memiliki motivasi dan kepentingan terhadap pendidikannya. Bagi sebagian anak, pergi ke sekolah mungkin masih menjadi beban kewajiban yang belum memiliki makna berarti. Maka menjadi tugas seorang guru untuk mendekat, menarik perhatian mereka dan menjadi inspirasi agar anak-anak mau hadir dan menghadirkan diri di kelas.

Cara Memikat Rasa Penasaran Siswa - Pengalaman dan Referensi dari berbagai sumber 

Pertanyannya, bagaimana cara memikat rasa penasaran orang lain? Menjadi menarik dan menyampaikan hal menarik setiap saat bukanlah hal mudah. Tapi inilah pekerjaan saya. 

Sewaktu pertama kali mengajar, saya terlalu panik untuk bisa mengingat teori-teori public speaking. Tapi setidaknya saya sudah menyiapkan slide yang menarik sehingga menolong saya mengalihkan fokus anak-anak pada grafik yang penuh warna. Ini adalah tips yang sebaiknya tidak saya ulangi, karena mana mungkin seorang guru yang grogi bisa mengajar dengan baik. 

Beberapa waktu kemudian, saya butuh waktu untuk bisa mengatasi rasa gugup berbicara di depan murid. Salah satu filosofi yang akhirnya saya anut, adalah pendengar saya adalah anak-anak yang membawa gelas kosong, artinya saya harus membantu mereka mengisi gelas kosong itu dengan membiarkan mereka belajar dari saya.

Namun kemudian filosofi ini harus saya pertanyakan ulang. Sebuah buku berjudul 'Creative Teaching: Mengajar Mengikuti Kemauan Otak' karya Robert Bala menegur jalan ninja saya. Menganggap siswa adalah gelas kosong sama artinya menganut pendidikan gaya bank. Seolah guru adalah sumber pengetahuan, sedangkan murid adalah wadah yang menampung pengetahuan. Tidak hanya dari satu sumber, saya kemudian menemukan sumber rujukan penulis di buku Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire, yang jauh lebih detail menggambarkan bagaimana tidak manusiawinya pendidikan dengan filosofi gaya bank.

Kembali ke kelas, saya bukanlah guru yang cukup teliti dalam menyiapkan rencana pembelajaran yang menarik. Bahkan, sesekali saya meminta saran dari AI yang cukup detail untuk membuat rencana pembelajaran yang menarik. Tapi sedetail apa pun rencana disusun, faktanya di kelas selalu ada kejutan yang membuat kita harus bisa berpikir cepat. 

Kadang saya kebingungan dengan anak-anak yang cepat bosan dan tidak fokus. Dari pencarian dan diskusi dengan rekan guru lainnya, ternyata keluhan ini tidak hanya saya yang mengalaminya. Saya juga harus mempertimbangkan faktor konsumsi gadget dan attention span yang pendek pada generasi ini. Saya sudah menulis catatannya, tapi menurut saya tetap ada faktor yang bisa dikontrol oleh guru. Yaitu bagaimana suasana kelas, manajemennya, hingga pendekatan yang lebih kreatif. Walau fakta di lapangan jauh lebih sulit daripada kalimat yang saya tuliskan.

Saya membuat pola saat mengajar. Sebelumnya, bisa dibilang saya hanya mengikuti arahan lesson plan yang saya dapat dari 'Teacher Resource' atau yang saya susun bersama AI. Namun, saya kehilangan fokus anak-anak lebih cepat, karena ternyata memang dibutuhkan pola atau habit yang bisa diingat anak-anak. Ini dia pola yang saya terapkan kemudian di kelas.

1. 5 menit untuk menyiapkan kelas.

Selalu mulai kelas dengan sapaan hangat, menanyakan kabar, dan menanyakan apa yang sudah dipelajari di pertemuan sebelumnya. Kemudian, mengingatkan anak-anak tentang aturan di kelas. Termasuk mencegah mereka berbicara dengan teman sebangkunya, berbicara dengan sopan, dan bertanya dengan mengangkat tangan. Kemudian mengingatkan buku dan alat tulis. Aturan kelas bagi saya benar-benar ritual yang membosankan, tapi mengulang-ulang hal ini jauh lebih efektif daripada kemudian kewalahan menghadapi kelas yang ribut dan tidak kondusif.

2. HOOK - bangkitkan rasa penasaran dengan tanda tanya

Ada beberapa variasi HOOK yang pernah saya coba, seperti games dan pair discussion, namun yang paling efektif menurut saya adalah memberi siswa ruang untuk membuat pertanyaan. Metode ini akan membuat mereka penasaran dengan topik yang diberikan. Dan akan jauh lebih efektif jika anak-anak dibiarkan terlebih dahulu membuka buku dan membaca secara cepat - scanning reading, instruksinya adalah membaca judul-judul utama dan memperhatikan gambar. 

3. Metode Ceramah dan Open Discussion

Saya sudah bilang di awal bahwa saya adalah pembicara yang grogi, apalagi saat membicarakan hal tersebut pertama kali. Memang materi yang saya ajar adalah sains untuk siswa sekolah dasar, namun ternyata saat menyampaikan pertama kali saya sering kagok dan keseleo lidah. Apalagi untuk menyampaikan materi dalam Bahasa Inggris yang mudah dipahami anak-anak. 

Nah, untuk mengatasi hal ini, saya memilih untuk membuka diskusi. Slide-slide yang saya gunakan akan saya buat dengan mencantumkan pertanyaan. Beberapa anak yang sudah memiliki pengetahuan suka sekali menjawab dengan gaya mereka. Sesekali saya juga melemparkan pertanyaan ini kepada anak-anak yang pasif berbicara, sehingga menarik mendengar ide keren mereka yang terpendam.

Saya rasa 1 jam pelajaran (35 menit) cukup untuk merampungkan satu materi. Namun, jika pertanyaan anak-anak liar ke mana-mana bisa habis 45 menit. Tapi saya suka kelas yang ramai dengan pertanyaan. 

4. Demo dan Eskperimen

Untuk subjek Sains, ada syarat praktik yang harus diajarkan guru. Bahkan berdasarkan kurikulum yang saya ajar, anak-anak belajar untuk menyiapkan eksperimen yang sistematis, termasuk mempelajari variabel penelitian dan laporan penelitian sederhana. Menurut saya, ini cukup dini untuk anak-anak sekolah dasar, walau begitu, ya, harus tetap diajarkan, kan?

Anak-anak dengan tipe kecerdasan dominan kinestetik sangat suka melakukan eksperimen. Bahkan saat saya sudah membawa alat dan bahan, mereka tanpa sadar maju ke depan dan memegang beberapa alat.

Untuk mencegah risiko eksperimen, seperti lantai yang penuh cat, pasir yang bertebaran di mana-mana, hingga risiko alergi dan kecelakaan kerja, tetap perlu instruksi dan prosedur yang rapi dan hati-hati. Apalagi untuk anak-anak yang punya banyak imajinasi, kadang sulit mengendalikan kreativitas mereka. Tapi, tetap mengawasi adalah tugas kita para guru.

Saya jadi teringat metode Montessori, di mana anak-anak kemudian diberi kepercayaan untuk mandiri saat melakukan aktivitas belajar. Juga menyiapkan area aman untuk bereksperimen, bisa dengan nampan atau alas. Menariknya, anak-anak jadi lebih bertanggung jawab terhadap eksperimen mereka, hingga merapikan area mereka setelah selesai melakukan eksperimen.

5. Latihan soal

Ada lembar kerja atau laporan eksperimen yang mungkin membosankan bagi sebagian siswa, namun ini penting sebagai evaluasi dan bukti tertulis pembelajaran. Selain itu, ini penting untuk membantu anak-anak yang suka mengasah kemampuan berpikir dan analisis yang dalam. 

Seperti kata ulama, 'ikatlah ilmu dengan pena'. Anak-anak juga dipandu untuk membuat catatan pembelajaran, sehingga mereka terlatih untuk mengingat tidak dari hafalan, tapi dari kegiatan dan paparan yang terus-menerus. 

6. Tutuplah dengan terima kasih dan apresiasi

Pembelajaran perlu ditutup dengan kesimpulan. Saya suka membuat pertanyaan penutup, lalu beberapa anak akan mengangkat tangannya untuk menjawab. Saya memilih 2 siswa yang sukarela menjawab. Biasanya, iming-iming plus point membuat mereka semakin antusias. 

Sampaikan terima kasih atas perhatian mereka dan apresiasi atas waktu yang mereka berikan. Saya tahu mereka harus belajar, namun mereka juga manusia, mereka meluangkan waktu untuk belajar dan hadir di kelas. 



Dari 6 pola yang saya terapkan di kelas, saya tetap harus memberi ruang untuk situasi yang tidak terduga. Rasa penasaran siswa adalah apa yang bisa dikendalikan oleh siswa. Bagi seorang guru, kita harus membuat ruang aman yang membuat siswa merasa aman dan nyaman saat belajar. Saat anak-anak memilih untuk mengobrol daripada meneriaki mereka untuk tenang, ada alternatif seperti berhitung, menggunakan lagu dan tepuk, bahkan cukup diam, dan mereka akan paham dengan simbol yang kita buat. 

Catatan ini adalah bagaimana saya sejauh ini mengajar di kelas, namun tentu bukan yang terbaik yang bisa dipilih oleh rekan-rekan guru semua. Sebagai pengajar, menyediakan ruang untuk belajar adalah tindakan bijak yang tidak boleh ditinggalkan. Jadi, jika ada pembaca yang mau memberi saran dan kritiknya, saya terbuka. 

Terima kasih atas waktunya, sampai jumpa di tulisan-tulisan berikutnya.


Komentar

Postingan Populer