Fenomena Gen Alpha Bangun hingga Tertidur Bersama Gadget
Bacaan 5 menit | Diperbarui 8 Maret 2026. Konten Original.
Catatan guru Gen Z yang kewalahan dengan pola pikir Gen Alpha.
Hari-hari saya menghadapi siswa, mengajarkan saya tentang dunia anak-anak yang melampaui pengetahuan saya. Anak-anak usia 7–13 tahun menunjukkan begitu banyak ekspresi saat mereka penasaran, bosan, kesal, empatik, dan sedih. Seperti video yang diperlambat, setiap harinya selalu ada perubahan dari anak-anak yang bertumbuh sedikit demi sedikit.
Mari kita masuk ke pola pikir Gen Alpha. Mereka lahir saat teknologi sudah sedemikian maju. Smartphone sudah menjadi alat sehari-hari yang dapat mereka akses. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, mereka diasuh oleh gadget. Mereka jauh lebih cepat menyerap informasi. Meme yang sedang tren menjadi ekspresi repetitif, seperti 67.
Guru dan orang tua sering mengeluhkan screen time dan menyalahkan konten media sosial yang tidak mendidik. Apalagi setelah konten brain rot AI turut menjadi tren yang masif beberapa waktu lalu di sosial media yang cukup mengkhawatirkan. Bahkan sempat menjadi isu bahasan yang penting, karena brain rot dapat merusak otak anak.
Pertanyaannya adalah saat anak-anak bisa menggunakan gadget berjam-jam. Apakah ini menjadi transformasi generasi Alpha yang tidak lagi memiliki batas antara dunia nyata dan maya? Di saat kehidupan lebih ramai di dunia maya dibandingkan dengan dunia nyata.
Menjawab pertanyaan ini, saya mengingat-ingat pengalaman saya dan melakukan riset di internet. Beberapa sumber seperti Morning Consult dan The Anne E Casey Foundation. Ini menjadi catatan untuk kemudian dibutuhkan pembuktian lebih lanjut.
Platform Favorit Gen Alpha
Platform media sosial yang banyak digunakan Gen Alpha adalah Youtube Shorts dan TikTok. Kedua platform ini menyajikan video berdurasi pendek. Kedua platform ini menyajikan pengalaman imersif dan interaktif. Penggunanya akan cenderung terus-menerus scrolling menghabiskan waktu.
Menariknya, kedua platform ini membutuhkan batasan usia 13 tahun. Per 2025, usia tertua Gen Alpha yang lahir tahun 2010 adalah 15 tahun. Sedangkan banyak Gen Alpha yang belum berusia 13 tahun dapat mengakses kedua platform tersebut. Sepertinya anak-anak menggunakan akun orang tuanya, atau bagi Gen Alpha yang sudah lebih tua menggunakan trik tertentu.
Interaksi dan Konten Gen Alpha
Interaksi yang umumnya dilakukan oleh anak-anak adalah like dan share. Umumnya anak-anak lebih banyak meng-scroll daripada membuat konten. Mereka juga bisa merepost video pilihan mereka untuk diremix dengan preferensi mereka. Konten yang kaya visual, hook menarik, dan cepat dari niche animasi, games, dan tantangan lebih digemari oleh Gen Alpha.
Konten kreator yang menyajikan konten bagi Gen Alpha bukan hanya Gen Alpha itu sendiri, tetapi juga Gen Z, bahkan milenial. Mereka menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi Gen Alpha yang ingin konten cepat dan kaya visual sesuai niche favorit.
Konsumsi Media Sosial Harian
Dari data laporan Morning Consult tahun 2025 ditemukan bahwa 1 dari 5 anak berusia 9 tahun (23%) menggunakan media sosial 3–6 jam sehari, sedangkan hampir 50% lebihnya online dengan durasi waktu yang sama untuk aktivitas digital lainnya.
Kenapa anak-anak bisa punya akses terhadap media sosial sebanyak itu setiap hari? Kembali ke orang tua, ada yang berpendapat bahwa media sosial adalah fitur pengasuhan dengan tetap menyeleksi konten yang baik bagi anak. Ada juga yang beralasan bahwa anak-anak membutuhkan media sosial sebagai hiburan dan interaksi dengan teman-temannya.
Resiko dan Solusi
Orang dewasa beralasan bahwa memberikan akses media sosial adalah hiburan dan pelepas penat untuk anak. Sayangnya, ada dampak yang memperburuk kondisi otak, fisik, dan mental anak akibat konsumsi media sosial.
Saat anak menggunakan media sosial sampai 3 jam bahkan lebih, artinya indikasi adanya adiksi sudah muncul pada anak. Selain screentime berlebihan, para peneliti menyebutkan gejala kecanduan media sosial juga ditunjukan dengan sebentar-sebentar mengecek media sosial (compulsive checking), hingga interaksi anak semakin berkurang dan terganggu di dunia nyata.
Akumulasi resiko dan masalah yang disebabkan oleh sosial media masih akan terus berlangsung di tahun-tahun mendatang, jika tidak ada penanganan yang tepat. Untuk itu, peran keluarga sangat penting untuk menghadirkan lingkungan online yang sehat bagi anak.
Anak-anak yang terbiasa dengan media sosial akan memiliki rentang fokus yang singkat dan tantangan dalam pergaulan. Jika penggunaan media sosial akhirnya menyebabkan penurunan fokus dan memori, rasa rendah diri dan kesulitan berkomunikasi, maka ada baiknya berkonsultasi kepada pakar dan psikolog.
Anak-anak punya hak untuk mendapatkan pendidikan terbaik untuk mendukung kehidupannya. Bijak mendidik penggunaan media sosial adalah tanggung jawab orang dewasa. Tidak bisa kita pungkiri, melindungi anak-anak dari dampak buruk media sosial saat ini butuh energi yang besar. Setidaknya mengurangi waktu penggunaan gadget, adalah langkah awal untuk membantu kehidupan anak dengan lebih baik.
Anak juga disarankan lebih aktif bermain dan berinteraksi secara fisik dibanding daring. Orang tua adalah ujung tombak pertama dalam pendidikan anak diharapkan dapat membangun interaksi positif, anak diajak bercerita, membaca buku, bermain aktivitas fisik, mengerjakan pekerjaan rumah, hingga melatih keterampilan diri. Harapannya, proses bermain dan bergaul akan mengurangi keinginan untuk melihat gadget secara umum, khususnya media sosial.
Berapa lama waktu maksimal anak menggunakan media sosial yang dibolehkan? Batas waktu 2 jam adalah durasi maksimal anak menggunakan media sosial.
Baca sumber tulisan ini:
Amirthalingam J, Khera A. Understanding Social Media Addiction: A Deep Dive. Cureus. 2024 Oct 27;16(10):e72499. doi: 10.7759/cureus.72499. PMID: 39600781; PMCID: PMC11594359.
A Day in Gen Alpha’s Digital Life. Updated Oct 2025. Morning Consult
The Impact of Social Media and Technology on Gen Alpha. Updated June 2025. The Anne E Casey Foundation.


Komentar
Posting Komentar